VIVAnews - Investor pada sejumlah Indeks saham di negara utama Asia dan Eropa memperoleh sinyalemen negatif menyusul pengumuman resmi Bank Sentra Amerika Serikat (The Fed). Fed akan mempertahankan suku bunga tetap rendah. Pertemuan Presiden Barack Obama ke negara Asia juga tidak banyak mempengaruhi perdagangan. Di Asia, Indek Nikkei 225 (Jepang) pada penutupan Selasa turun 73,71 poin (0,6 persen) menjadi 9.729,47. Indeks Hang Seng (Hong Kong) jatuh 101,15 poin (0,4 persen) menjadi 22.842,83 setelah kenaikan besar sehari sebelumnya yang mencapai 23.000. Adapun indeks Australia turun 0,5, Singapura turun 0,1 dan Indeks Kospi (Korea Selatan) naik 0,2 persen menjadi 1.595,30. Kenaikan terjadi di Indeks Gabungan Shanghai (China) sebesar 0,2 persen menjadi 3.280,95. Jika Anda tidak memiliki rincian yang akurat mengenai world, maka Anda mungkin bisa membuat pilihan yang buruk pada subjek. Jangan biarkan hal itu terjadi: terus membaca.
Sementara penutupan Senin waktu setempat di FTSE 100 (Inggris) menurun 13,32 poin (0,3 persen) pada level 5.369,35. Indeks DAX (Jerman) melemah 6,33 poin (0,1 persen) menjadi 5.768,49 sedangkan CAC-40 (Prancis) turun 9,52 poin (0,3 persen) menjadi 3.853,64. Indeks Amerika mengalami hal serupa. Indeks Dow Jones turun 3 persen menjadi 10.365 dan Indeks S and P 500 tergelincir 0,4 persen menjadi 1.105,90. "Akan terjadi gelombang aksi ambil untung di pasar," kata Ben Potter, Peneliti di IG Markets Melbourne, Australia. Peningkatan besar (reli) pasar yang terjadi sejak Maret lalu, kata Potter, merupakan antisipasi investor terhadap sinyal pemulihan ekonomi global. Laporan ritel AS senin lalu mendorong optimisme investor ekonomi akan membaik tahun depan. Konsumsi AS medominasi sekitar 70 persen perekonomian AS.
Pernyataan The Fed yang mempertahankan suku bunga rendah dan pelemahan dolar membuat investor lebih memilih aset di ekuitas yang lebih menjanjikan keuntungan lebih besar. "Investor telah pulih dari reaksi atas penyataan Bank Sentral dan pelemahan dolar. Mereka akan kembali memilih aset beresiko (saham)," kata Gareth Berry, Seorang Periset Mata Uang di UBS. ¢ VIVAnews
Sementara penutupan Senin waktu setempat di FTSE 100 (Inggris) menurun 13,32 poin (0,3 persen) pada level 5.369,35. Indeks DAX (Jerman) melemah 6,33 poin (0,1 persen) menjadi 5.768,49 sedangkan CAC-40 (Prancis) turun 9,52 poin (0,3 persen) menjadi 3.853,64. Indeks Amerika mengalami hal serupa. Indeks Dow Jones turun 3 persen menjadi 10.365 dan Indeks S and P 500 tergelincir 0,4 persen menjadi 1.105,90. "Akan terjadi gelombang aksi ambil untung di pasar," kata Ben Potter, Peneliti di IG Markets Melbourne, Australia. Peningkatan besar (reli) pasar yang terjadi sejak Maret lalu, kata Potter, merupakan antisipasi investor terhadap sinyal pemulihan ekonomi global. Laporan ritel AS senin lalu mendorong optimisme investor ekonomi akan membaik tahun depan. Konsumsi AS medominasi sekitar 70 persen perekonomian AS.
Pernyataan The Fed yang mempertahankan suku bunga rendah dan pelemahan dolar membuat investor lebih memilih aset di ekuitas yang lebih menjanjikan keuntungan lebih besar. "Investor telah pulih dari reaksi atas penyataan Bank Sentral dan pelemahan dolar. Mereka akan kembali memilih aset beresiko (saham)," kata Gareth Berry, Seorang Periset Mata Uang di UBS. ¢ VIVAnews
No comments:
Post a Comment