Jakarta ( Berita ) : Mantan Presiden Konferensi Parlemen Asia (Asian Parliamentary Assembly/APA) Agung Laksono menegaskan, tugas organisasi APA di masa mendatang semakin berat karena tantangan dan persoalan yang dihadapi negara-negara kawasan Asia sangat bervariasi. Kepada pers di sela-sela pembukaan sidang pleno keempat APA di Bandung, Selasa [08/12], Agung yang kini menjabat Menko Kesra itu menjelaskan bahwa Asia merupakan benua yang kaya dengan sumber daya alam, seperti emas, minyak, uranium dan lainnya, tetapi sekaligus pula merupakan kawasan yang tidak stabil akibat peperangan dan terorisme. Harus diakui bahwa sekarang ini Asia dirasakan hanya dimanfaatkan saja oleh benua lainnya. Itu karena kita masih sering cakar-cakaran sendiri, ujarnya. Oleh karena itu, menurut dia, diperlukan satu langkah awal menuju komunitas masyarakat Asia yang mempunyai kekuatan tersendiri dan daya tawar yang lebih baik di mata negara-negara dunia lainnya. Bahkan, ia menambahkan, ada gagasan parlemen Asia itu nantinya seperti parlemen Eropa dan ada satu komunitas masyarakat Asia yang kemungkinan hal itu baru bisa terwujud pada 50 atau 100 tahun lagi. Itu merupakan perjalanan yang sangat panjang karena di Asia sendiri, negara-negara anggotanya sangat beragam. Ada yang sudah berdemokrasi, semi demokrasi dan lain sebagainya, kata Agung. Anda mungkin tidak mempertimbangkan segala sesuatu yang baru saja Anda baca untuk menjadi informasi penting tentang berita. Tapi jangan kaget jika Anda menemukan diri Anda sendiri mengingat dan menggunakan informasi ini dalam beberapa hari mendatang.
Indonesia sendiri berharap bisa menjadi pemimpin bagi Asia untuk berdemokrasi. Selama ini Indonesia sudah dinilai berhasil dalam menjalankan demokrasinya sehingga termasuk pula sebagai salah satu negara yang disegani di dunia. Salah satu buktinya adalah setelah Iran menjadi presiden APA yang pertama lalu Indonesia menjadi negara yang kedua memimpin APA hingga saat ini. Begitu kita pegang (posisi Presiden APA), banyak negara-negara yang juga mengincar jabatan ini. Saya dengar untuk presiden APA yang ketiga ini sudah banyak negara yang menyatakan minatnya seperti Rusia dan Jepang. Padahal sebelumnya sudah disepakati giliran berikutnya setelah Indonesia adalah Suriah, ujar Agung yang juga Ketua DPR periode 2004-2009. Pada bagian lain, Agung menilai dengan adanya APA itu, hubungan kerjasama antarparlemen di kawasan Asia semakin baik. Berbagai resolusi atas persoalan yang dihadapi kawasan juga cukup beragam seperti soal perdagangan orang, isu perubahan iklim, penanganan terorisme hingga isu tentang arsitek baru keuangan global dalam menghadapi krisis. Tapi, demikian Agung, harus diakui pula bahwa hubungan antara parlemen dengan pemerintahan masing-masing negara anggota APA berbeda-beda. Ada yang besar pengaruhnya dan ada juga yang eksekutifnya sangat dominan. Namun demikian, sejumlah resolusi yang pernah dihasilkan APA telah menjadi referensi. Seperti dalam kasus Myanmar. Sikap APA menjadi referensi negara-negara lain dalam mengambil sikap soal Myanmar itu. Juga ketika terjadi bencana tsunami di Indonesia, parlemen negara-negara anggota APA turut memberikan dukungan agar pemerintahan masing-masing yang telah memberikan komitmen bantuan ke Indonesia segera merealisasikannya, ujarnya. ( ant )
Indonesia sendiri berharap bisa menjadi pemimpin bagi Asia untuk berdemokrasi. Selama ini Indonesia sudah dinilai berhasil dalam menjalankan demokrasinya sehingga termasuk pula sebagai salah satu negara yang disegani di dunia. Salah satu buktinya adalah setelah Iran menjadi presiden APA yang pertama lalu Indonesia menjadi negara yang kedua memimpin APA hingga saat ini. Begitu kita pegang (posisi Presiden APA), banyak negara-negara yang juga mengincar jabatan ini. Saya dengar untuk presiden APA yang ketiga ini sudah banyak negara yang menyatakan minatnya seperti Rusia dan Jepang. Padahal sebelumnya sudah disepakati giliran berikutnya setelah Indonesia adalah Suriah, ujar Agung yang juga Ketua DPR periode 2004-2009. Pada bagian lain, Agung menilai dengan adanya APA itu, hubungan kerjasama antarparlemen di kawasan Asia semakin baik. Berbagai resolusi atas persoalan yang dihadapi kawasan juga cukup beragam seperti soal perdagangan orang, isu perubahan iklim, penanganan terorisme hingga isu tentang arsitek baru keuangan global dalam menghadapi krisis. Tapi, demikian Agung, harus diakui pula bahwa hubungan antara parlemen dengan pemerintahan masing-masing negara anggota APA berbeda-beda. Ada yang besar pengaruhnya dan ada juga yang eksekutifnya sangat dominan. Namun demikian, sejumlah resolusi yang pernah dihasilkan APA telah menjadi referensi. Seperti dalam kasus Myanmar. Sikap APA menjadi referensi negara-negara lain dalam mengambil sikap soal Myanmar itu. Juga ketika terjadi bencana tsunami di Indonesia, parlemen negara-negara anggota APA turut memberikan dukungan agar pemerintahan masing-masing yang telah memberikan komitmen bantuan ke Indonesia segera merealisasikannya, ujarnya. ( ant )
No comments:
Post a Comment